Arsip

All posts for the month Juli, 2013

Bedroom Project by Kiu Meireles

Published 31 Juli 2013 by ExsperienceLife-Andy
Iklan

EXCLUSIVE: #sexy Juliano Oliveira by Sergio Baia

Published 31 Juli 2013 by ExsperienceLife-Andy

Fashionably Male

962798_10151578247362776_462287674_n962967_10151577984162776_449244921_n992276_10151578077497776_210926107_n1063182_10151578247332776_1529282337_n1069046_10151577984017776_1680284840_n1075101_10151577984032776_1220652313_n1075176_10151578077737776_384331714_n1075231_10151578272012776_962748549_n1079357_10151578288507776_555674321_n1079600_10151578247357776_804572854_n1079643_10151577984147776_1801569944_n1079783_10151578077482776_638963334_n1080903_10151578077692776_667726882_n1080908_10151578077642776_624039265_n1081778_10151578288527776_1933984658_n1085413_10151578247397776_1091149746_n

Beautiful location where this was shot at Pedra de Itapuca, Niteroi at Rio de Janeiro, where Sergio Baia captured a beautiful but enigmatic and sexy Brazilian model named Juliano Oliveira and he wears a sexy sunga from Carioca Wear and DellRio. One of the sexiest shots I’ve ever seen, where the set plays his natural splendor and Juliano is showing his ‘rico corpo’ at the shore.

Lihat pos aslinya

130728 OFFICIAL, Super Show 5 Tokyo Dome Press Conference – Super Junior [4P]

Published 29 Juli 2013 by ExsperienceLife-Andy

Participate Charity Fan Project ”Happiness is Best Shared Together”  & Sup3rJunior’s Super Show 5 in Malaysia Project Donation

Compilation: 130727/28 슈퍼주니어 “World Tour, SUPER SHOW 5” Tokyo

Credit: http://mdpr.jp
Reupload and Posted by: firnia
 (www.sup3rjunior.com)
TAKE OUT WITH FULL & PROPER CREDITS.
DO NOT HOTLINK, MODIFY OR CUT THE LOGO OF THE PICTURES.
Please credit ‘SUP3JUNIOR.WORDPRESS.COM’ as well. Thank you.

130728_PressConference1

130728_PressConference3

130728_PressConference4

130728_PressConference2

Lihat pos aslinya

CURUG SAWER, SITUGUNUNG – 1 jam menikmati keindahannya melalui mata lensa

Published 20 Juli 2013 by ExsperienceLife-Andy

Saat ini hanya ada saya, my camera, dan gemuruh air terjun.

Yeayyy…

Jika mau cari waktu untuk menikmati kesendirian di alam terbuka, saya sangat menyarankan untuk pergi saat hari kerja. Seperti yang saya lakukan saat itu, karena kebetulan sedang cuti dan berada di Sukabumi, saya pengen jalan-jalan buat foto landscape aja di senin pagi. Lokasinya gak jauh, hanya ke Curug Sawer yang berada di area Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, atau enaknya disebut di area Situgunung, Sukabumi .

Dari Sukabumi saya berangkat sendiri sekitar jam 8 pagi, mengendarai motor matic dengan tas kamera dan tripod terselempang di bahu kanan. Kemacetan jalan dari kota Sukabumi ke Cisaat cukup menyita waktu, lumayan bete jadinya karena walau naek motor pun susah buat nyelap-nyelip nya. Meskipun begitu, semangat saya tetap membara dan saya pun akhirnya tiba di pintu masuk area Situgunung sekitar pukul setengah sembilan (pagi lho ya….)

Ini nih keuntungan lain kalau datang ke tempat wisata saat hari kerja (walau sebenernya gak bagus) yaitu karena sepi orang yang datang, petugas jaga loket nya gak ada, jadinya ya….saya masuk aja tanpa ditarik biaya tiket. Ya mau gimana lagi, mau bayar gak ada petugasnya, bikin ngirit lagi, ya saya gak nolak. Saya parkir motor di area samping loket masuk, di situ sudah ada dua orang tukang ojek yang stanby. Kalau sendiri, untuk ke curug Sawer menurut saya enakan naek ojek, cuma memakan waktu kira-kira 15 menit sampai. Kalau jalan kaki bisa memakan waktu 45 menit sampai satu jam, kalau ada temen sih enak, bisa sekalian hiking santai sambil menikmati pemandangan.

Biaya ojek?

Waktu itu tukang ojek nya buka harga 25 ribu sekali jalan, atau 50 ribu untuk PP. Saya tawar 30 ribu PP, dia pun mau.

Untuk jalurnya, para tukang Ojek lebih memilih melalui Cinumpang karena medannya sedikit lebih friendly buat motor. Jadi dari pintu masuk area Situgunung, kita keluar lagi untuk masuk melalui jalur Cinumpang, yang gak gitu jauh juga dari area Situgunung. Nah… lagi-lagi saya melewatkan beberapa loket tiket masuk lagi. *hammer

Jalur Cinumpang ini cukup menarik juga, kita melewati jembatan sempit yang menyeberangi bendungan dan melintasi jalan tanah yang sempit disamping jurang. Brrrrr…..ngeri nih kalo naik motor sendiri, untung sang ojek sudah familiar dan pengalaman dengan medan ini, yang akan lebih ngeri saat musim hujan. Saat melintasi jalur ini, sang tukang ojek seringkali membunyikan klakson karena di jalur sempit ini  beberapa tikungan tidak terlihat area depan karena terhalang dinding tanah di sisi lainnya, untuk antisipasi jika ada pengendara atau orang berjalan dari arah depan.

Ojek pun berhenti di suatu area datar yang ada pondokan, yang berfungsi jadi warung saat weekend. Dari situ saya harus berjalan lagi sekitar 100 meter untuk ke area wisata, untung jalanannya menurun. Asik banget nih suasananya di sini, segar banget. Selepas melewati turunan jalan setapak, kita akan melewati jembatan bambu yang membelah sungai Cigunung. Suasananya adem banget…seger….aroma daun pepohonan, tanah basah berpadu dengan suara gemericik aliran sungai memecah bebatuan. Mantappppp ini…….

Area pinggir sungai ini cukup luas, cocok untuk kegiatan camping yang kebetulan saat itu juga saya jumpai beberapa anak muda yang sedang camping. Di sisi lain area camping ini ada deretan warung-warung, yang saat itu cuma ada 2 warung saja yang buka. Sang tukang ojek yang nganter saya pun saya suruh nunggu di warung saja, ngopi atau ngemil-ngemil nanti saya yang bayar. Saya pun melangkah masuk area air terjun, melalui pos masuk yang lagi-lagi gak ada penjaganya. *hammer lagi

Memasuki pintu masuk area itu, suasana terasa sunyi dengan dominasi suara gemuruh air terjun yang jatuh dari ketinggian sekitar 20-30 meter (coba cek google, yang bener brapa tingginya). Di area sekitar air terjun itu hanya terdapat seorang ibu dengan anaknya (yang tampaknya penjual warung) serta seorang bapak yang sedang memancing di atas satu batu besar di samping jatuhnya air.

Saya duduk sejenak di salah satu bangku yang dibuat sederhana dari kayu, menikmati dan mempelajari suasana untuk menentukan spot foto.

Sekitar 10 menit saya duduk melamun. Enak banget nih suasananya…duh gimana lagi yak gambarin suasananya melalui tulisan. Coba deh ntar kesini, duduk di bangku ini dan ngelamun yak.

Setelah cukup ngelamunnya, saya menghampiri bapak yang sedang memancing pas disaat dia mengangkat seekor ikan kecil yang tersangkut di ujung mata kailnya. Saya pun berbasa-basi sejenak dengan bapak itu sebelum mulai menancapkan tripod tidak jauh dari posisi bapak itu berdiri.

Kalau sudah menancapkan tripod begini pasti akan terlihat sangat membosankan, khususnya bagi mereka yang berjiwa traveling. Yang saya lakukan hanya pasang tripod, atur posisi kamera, pencet kabel/shutter release, dan kamera akan diam selama minimal 30 detik untuk mendapatkan satu foto. Di satu spot tripod menancap bisa memakan waktu 10-15 menit. Setelah puas, saya angkat tripod, pindah di spot lain, dan melanjutkan tahapan seperti tadi.

Secara teknis, saya mengeluhkan FL lensa saya yang kurang wide, jadi ya nambah bikin pusing aja untuk atur-atur komposisi dan cari posisi buat nancepin tripodnya. Saya hanya pake lensa kit 18-55mm dengan tambahan filter ND400, yang gak terlalu big stopper. Tapi kata senior-senior saya di foto, kita gak boleh mengeluhkan hal tersebut. Kita harus mengenali karakter senjata kita dan memaksimalkan penggunaannya, karena yang terpenting adalah “the man behind the canon”, katanya….*hikk ngiklan

Dari foto-foto saya di atas, saya masih belum menemukan posisi agar air terjunnya tidak terhalang semak pepohonan, tetapi saya tetap dapat slow motion aliran air sungainya. Saya coba mundur lagi ke belakang, cari spot yang siapa tahu bisa mengakomodir keinginan saya.

Tancep tripod lagiiiiii…..Nah, di saat ini saya baru menyadari kalau saya benar-benar sendirian. Si bapak pemancing dan Ibu-anak dah gak ada lagi. Saya ngelihat lagi keadaan sekeliling…..shiirrrrr……shiirrrrr…..shiirrrrr…hiiiiiiiiii

Dah cukup OK gak foto di atas? kurang enak yak komposisinya? maklum aja ya…..

Dan berikut beberapa foto Curug tersebut dari jarak lebih dekat. Maaf ya karena gak ada orang lain, jadi gak ada object orang sebagai pembanding tinggi curug.

Setelah saya rasa cukup, saya pun kembali duduk di bangku sederhana yang terbuat dari kayu tadi. Sambil merapikan kamera, saya lihat ke jam tangan saya yang ternyata gak terasa sudah sekitar 1 jam saya berada di sini. Saya masih sempat sejenak menikmati keheningan yang tercipta, diiringi deburan gemuruh air.

Mikir-mikir, mau nyemplung buat berendam dulu bentar gak yak….hmmm tapi kalo gak ada orang laen, ya gimana gitu rasanya. Kalo nonton film Wiro Sableng sih sendirian gini dia pasti doyan tuh berendam, setelah itu duduk bersila di bawah guyuran air…beres-beres makin sakti. Haisshhh…. dah pulang aja lah, berendamnya nanti pas weekend, pas banyak temennya. Gak bakal bosen deh balik lagi ke tempat ini, ke Curug Sawer.

Situs Tugu Gede Cengkuk

Published 20 Juli 2013 by ExsperienceLife-Andy

Situs Tugu Gede Cengkuk

From: oman abdurahman 
Subject: Perjalanan ke Ciptagelar & Cengkuk-
Haturan kang CA, kang Danny, kang Pon, kang Anto, dan sahabat semua,
Bupati Sukabumi (membelakangi kamera) sedang mendengarkan penjelasan situs Cengkuk — with Info Pariwisata Palabuhanratu and Rully B Tedjasukmana.
  1. Pada hari Jum’at-Ahad, 12-14 Oktober 2012, kami melakukan perjalanan ke masyarakat adat Sinarresmi dan Ciptagelar; dan Situs purbakala Tugu Gede, Cengkuk, Cikakak, Kabupaten Sukabumi. Banyak yang kami dapatkan dari perjalanan tsb dan menjadi semacam charger yang hebat bagi kami untuk tetap bersemangat memperjuangkan Indonesia yang lebih baik. Kedua perjalanan dalam satu paket tsb bagi kami sangatlah impresif, dan berikut laporan singkatnya:


 1) Perjalanan ke Kampung Adat Sinarresmi dan Ciptagelar

Perjalanan (lalampahan) ka Ciptagelar sangat berkesan. Perjalanan tsb memang agak dipaksakan, dalam arti saya khususnya, sedang berada dalam bulan2 yang sangat sibuk dengan tugas2 kantor. Namun, saya sudah bertekad untuk menjadikan tawaran (ajakan) dari Miftah beberapa minggu sebelumnya sebagai kesempatan berharga untuk dapat berkunjung ke Sinarresmi dan Ciptagelar, melengkapi pengalaman saya berkunjung ke Kanekes (Baduy dalam) kl 15 tahun yl (tuh pan bedana oge tos 15 taun :)). Miftah adalah seorang anak muda, guru geografi di sebuah SMA di kawasan Bumi Parahiyangan sekaligus penggiat geowisata dari “Geotourism Community”.
Oleh-oleh perjalanan lumayan banyak. Mudah-mudahan sy dapat menuliskannya walau hanya berupa status di FB atau celetukan komentar terhadap status dari peserta yang kemarin ikut dalam rombongan perjalanan, yaitu: Kuke, Martha, Miftah, plus 7 urang siswa SMA, muridna Miftah. Namun, secara umum, pengalaman ke Sinarresmi dan Ciptagelar itu lebih bernuansa perjalanan budaya, khususnya budaya masyarakat adat di Banten pakidulan. Selain itu, minat saya juga terhadap jenis padi-padian (lebih dari 100 jenis) dan juga kayu-kayuan disana yang jumlahnya – menurut sesepuh adat di Sinarresmi – mencapai ratusan (untuk padi-padian sudah dicatat Miftah, yg belum dilakukan adalah mengambil foto dari setiap jenis padi-padian tsb, ini tentu perlu waktu lama).
Di Sinarresmi dan Ciptagelar, nilai-nilai yang paling utama adalah kerukunan hidup, bermitra dengan alam dan sistem leuit sebagai sarana ketahanan pangan, dasar-dasar kebersamaan mereka dan penghormatan terhadap padi (Dewi Sri). Status saya di FB tentang padi dan leuit di Ciptagelar dapat dilihat disini:

https://www.facebook.com/photo.php?fbid=10151191373178291&set=a.449672263290.229744.627503290&type=1&theater
https://www.facebook.com/photo.php?fbid=10151193303603291&set=a.10150747268818291.428779.627503290&type=1&theater
(mohon untuk teman-teman yang sebelumnya sudah melihat status tsb).

Dari respon mitra yang begitu banyak terhadap status tsb, ternyata sistem penghormatan terhadap padi dan leuit yang kita dapatkan dari Ciptagelar menarik perhatian dan masih diminati anak muda. Kang Pon bahkan setengah “menantang” untuk menghidupkan kembali nilai-nilai tsb, tentu saja dengan revitalisasi dan konsep yang disesuaikan dengan kondisi kita yang hidup di perkotaan.

 2. Perjalanan ke Situs Tugu Gede, Cengkuk

Selain ke Sinarresmi dan Ciptagelar, sebetulnya kemarin kami bertiga (saya, Kuke dan Martha) juga menyempatkan diri melihat Situs Tugu Gede Cengkuk (nama singkatnya: Situs Cengkuk); sementara Miftah dan muridnya menghabiskan waktu di pantai. Perjalanan ini pun tak kalah menariknya dan penting untuk dilakukan perjalanan/survei lanjutan, terutama untuk meneliti apa makna situs tsb, dan bagaimana hubungannya dengan tinggalan dan penemuan yang ada saat ini seperti Gn Padang, dll.
Lokasi situs Cengkuk terletak di sebuah lembah di kaki bukit (namanya juga menunjukkan morfologi ini: “cengkuk”) menghadap Gunung Halimun di sebelah utaranya, di Kp Cengkuk, Desa Margalaksana, Kec. Cikakak, Kab. Sukabumi. Ini sebuah lokasi yang sangat menarik pula. Mengapa tidak berlokasi di puncak bukit seperti Gn Padang? Mengapa lokasinya di lembah (walau pun tetap di ketinggian)? Mengapa pula arah yang dipilih persis di hadapan Gn Halimun?
Akses ke lokasi cukupan (tidak buruk, tapi dibilang bagus juga tidak) , dapat dilalui mobil (roda empat) – apalagi motor – hingga ke tempat parkir yang sempit (hanya masuk 2 mobil kecil) kl 300 meter sebelum situs. Jarak dari jalan raya Palabuhanratu-Cisolok ke lokasi parkir tsb sekitar 13 km. Arah jalan menuju lokasi: belok kanan dari Jl Palabuhanratu-Cisolok di Sakawayan, tak jauh setelah lewat Samudera Beach hotel, yaitu ke arah kantor kecamatan Cikakak berlanjut terus hingga kampung Cengkuk. Jalan mendaki melalui perbukitan tempat kami menikmati suguhan pemandangan yang luar biasa indahnya.
Sebenarnya, apa yang kami lihat di Situs Tugu Gede Cengkuk sama dengan yang diberitakan situs-situs/web tentang Cengkuk. Misalnya: batu tugu atau menhir, batu pamandian, batu kursi, batu dakon, batu yang menyerupai meja makan, batu ranjang, dll, sebagaimana dapat disimak di:

http://www.disparbud.jabarprov.go.id/wisata/dest-det.php?id=281&lang=id
http://www.panoramio.com/photo/60022158
http://iyankusmayadi.multiply.com/video/item/14?&show_interstitial=1&u=%2Fvideo%2Fitem
(jika diperlukan Insya Alloh saya kirimkan foto2 saya sendiri disana)

Namun, ada pengalaman yang menarik, yaitu suasana yang pikabetaheun disana; hujan selintas seakan membilas area situs ketika kami baru saja tiba di lokasi, dan harum bunga Ki Beubeunteuran (?). Selain bunga dan buah pohon Ki Beubeunteuran, kami juga mengenal pohon (dengan buah/bunganya): Kalayar, Gadog, Sempur, dan lainnya.
Pengalaman lain di Cengkuk yang sangat menarik: berkesempatan melihat arca asli semacam arca Dewi Sri. Arca ini – perkiraan saya sj – pantasnya disebut demikian :) . Tapi saya yakin ini arca berjenis kelamin perempuan, ukuran kl 50 cm. Replika arca tsb terlampir (foto aslinya pun ada, Insya Alloh sudah salse dikintunkeun). Berapa umur arca tsb dan bagaimana hubungan arca dengan situs, hingga saat ini sy belum memperoleh keterangan.

Sampai disini dulu ya, Insya Alloh kedepan kita sambung lg.
Salam,
Oman A.

Updated over a year ago · Taken at Cikakak, Palabuhanratu, Kab. Sukabumi

 
Bupati Sukabumi (membelakangi kamera) sedang mendengarkan penjelasan situs Cengkuk — with Info Pariwisata Palabuhanratu and Rully B Tedjasukmana.
Situs temuan baru di Kab. Sukabumi dengan peninggalan dari berbagai zaman
Peta lokasi:
Cengkuk, Situs Terbesar di Indonesia
Temuan benda-benda peninggalan zaman megalitik dan peralatan yang diperkirakan buatan Dinasti Sung dan Ming ( Cina ) di situs Gunung Gede Cengkuk, Kampung Cengkuk, Desa Margalaksana, Kec. Cikakak, Kabupaten Sukabumi, terus berlanjut hingga saat ini. Namun temuan Situs Gunung Gede Cengkuk itu memerlukan penelitian budaya lebih komperhensif dengan evakuasi lahan yang luas.
‘ Upaya penelitian budaya dan perluasan ekskavasi akan terus ditindklanjuti untuk lebih jauh mengenai nilai-nilai budaya maupun asal-usul benda-benda. Karena temuan ini sedikitnya akan membuka tabir sejarah kerajaan Pajajaran di Jawa Barat, ‘ Kata Kepla Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Barat, Budhyana, Senin (19/12).Selama ini, ekskavasi yang dilakukan baru terbatas bagian permukaan dan arealnya terbagi dalam beberapa bagian. Benda yang ditemukan baru beberapa dari batu-batuan yang diperkirakan berasal dari zaman megalitik.Terhadap temuan tersebut menurut Budhyana, pihaknya berencana menganggarkan dana pada tahun 2006 untuk ekskavasi lanjutan. ‘ Diharapkan dengan anggaran yang tersedia dapat memenuhi dan menata kawasan Situs Cengkuk, terutama pengamanan benda-benda yang sangat kamai khawatirkan akan raib dicuri ‘

Dewa Siwa

Sementara itu, berdasarkan hasil ekskavasi yang dilakukan akhir November hingga pertengahan Desember lalu, ditemukan Arca Dewa Shiwa, yang merupakan bagian dari temuan arca hasil ekskavasi tahun 1992. Temuan berlanjut dengan ditemukannya punden berundak terdiri dari tiga teras, gerabah dan keramik.
Berdasarkan hasil penelitian sementara, Arca Dewa Shiwa dan punden berundak merupakan peninggalan abad ke – 15 masa kerajaan Padjajaran. Sedangkan gerabah dan keramik diperkirakan berasal dari zaman Dinasti Sung dan Ming dari abad 12-15 Masehi.
Kepala Balai Kepurbakalaan dan Nilai Sejarah Tradisional Disbudpar Jabar, Drs. Prama Putra,M.M. mengatakan, temuan berupa arca, gerabah dan keramik awal Desember hingga pertengahan ini merupakan hasil ekskavasi tahap dua yang dilakukan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, serta Seksi Musieum dan Benda Kepurbakalaan Kab. Sukabumi. Sementara temuan sebelumnya(tahap pertama) merupakan hasil ekskavasi Balai Arkeologi Bandung (Balar) yang dipimpin Drs. Lutfi,M.Hum., difasilitasi Balai Pengelolaan Kepurbakalaan, Sejarah dan Nilai Tradisional Disbudpar Jabar

Hingga saat ini, temuan hasil ekskavasi menyebar di areal seluas 4 hektare di Kamp. Cengkuk. ‘Namun, berdasarkan perkiraan luas lebih dari 4 hektare,’ ujarnya.

Situs cengkuk merupakan situs terbesar di Indonesia dan pertama kali ditemukan warga negara Belanda pada tahun 1883. Kemudian, dari tempat tidak jauh dari kawasan temuan pertama, tahun 1992, ditemukan sebuah patung. Temuan tersebut terus berlanjut pada Oktober 2005, yakni sebuah arca.
Sampai saat ini benda-benda yang ditemukan di situs Tugu Gede, Cengkuk, berupa Patung Dewa Shiwa berukuran 30 cm gerbah, dolmen, menhir berukuran 4 meter, yang diduga dijadikan tempat pemujaan. Candi perunggu berukuran mini, batu segi empat yang dijadikan tempat permanndian serta dakon, dan batu berlubang yang diperkirakan dijadikan penumbukan padi. Selain itu, ditemukan gambar lokasi peribadatan yang tertuang dalam batu besar.
Benda-benda peninggalan megalitik tersebut diperkirakan berusia ratusan ribu tahun, sebelum prasejarah. Batu dolmen diperkirakan digunakan untuk tempat penguburan, sementara batu besar yang berisi 10 lubang diperkirakan digunakan untuk tempat penguburan, sementara batu besar yang berisi 10 lubang diperkirakan dijadikan untuk menumbuk padi. (A-87)*** sumber Pikiran Rakyat tanggal 20 Desember 2005

posting by dedisuhendra 
http://www.facebook.com/media/set/?set=a.1134692326649.2022597.1207536018&type=1







  Ayu 'Kuke' Wulandari 14 hours ago   14.10.2012 :: sebelum pulang, Mang Jaya memperlihatkan kesemuanya ini: arca Nyi Pohaci Sanghyang Sri, sepasang Genta Pendeta berhiasan Padma berkepala Vaj'ra, Guci, dan beberapa perkakas lainnya. (Kamera: si Ungu & si Hitam) — with T Bachtiar Geo, Lutfi Yondri, Budi Brahmantyo, Oman Abdurahman, Disparbud Jabar, Sinung Baskoro and Arifin Surya Dwipa Irsyam.
 
 
 
 
 
Berdasarkan hasil penelitian sementara, Arca Dewa Shiwa dan punden berundak merupakan peninggalan abad ke – 15 masa kerajaan Padjajaran. Sedangkan gerabah dan keramik diperkirakan berasal dari zaman Dinasti Sung dan Ming dari abad 12-15 Masehi.